Desa Adat Panglipuran adalah sebuah desa adat yang terletak di kaki Gunung Batur, kelurahan Kubu, kecamatan Bangli, kabupaten Bangli. Desa ini memiliki ketinggian antara 600-625 meter di atas permukaan laut dan luas desa sekitar 112 hektar. Desa ini juga memiliki penduduk sekitar 930 jiwa yang terdiri dari 76 rumah dan 223 keluarga. Batas desa adalah sebagai berikut
– Utara : Desa Khayang
– Timur : Desa Kubu
– Selatan : Desa Bunaksa
– Barat : Desa Cekeng
Desa ini berada di posisi yang strategis yaitu di jalan utama wisata Kintamani yang memudahkan akses masuk ke area wisata ini. Desa ini ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata sejak tahun 1992.

Panglipuran berasal dari kata eling yang artinya ingat, pengeling pura yang artinya adalah asal muasal masyarakat Desa Panglipuran. Maksudnya adalah masyarakat Desa Panglipuran yang berasal dari Desa Bayung Gedhe selalu mengingat asal-usul mereka (tradisi leluhur).

Desa yang dipimpin oleh ketua adat yang bernama Bapak I Wayan Supat ini memiliki pemerintahan yang khas yaitu sistem pemerintahan hulu apad. Pemerintahan desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru adapt. Prajuru hulu apad yang dipimpin oleh jero kubayan (sebutan pemimpin desa). Prajuru hulu apad otomatis dijabat oleh mereka yang paling senior dilihat dari usia perkawinan tetapi yang belum ngelad. Ngelad atau pensiun terjadi bila semua anak sudah kawin atau salah seorang cucunya telah kawin. Mereka yang baru kawin duduk pada posisi yang paling bawah dalam tangga keanggotaan desa adapt. Di desa ini “awig-awig” atau hukum adat dibuat dari rapat desa yang menyesuaikan dengan kala (waktu) dan patra (keadaan).

Pembangunan desa dibagi atas 3 bagian berbeda, yaitu utama mandala (parahiyangan), madya mandala (pawongan), dan nista mandala (palemahan). Ketiga ini sering disebut “Tri Mandala”. Utama Mandala atau yang sering disebut parahiyangan adalah tempat suci desa yang terletak di hulu desa dengan ciri terdapat pura, tempat ini adalah tempat yang dianggap suci dengan tujuan untuk menjaga hubungan baik dengan Dewa yang mereka sembah yaitu Dewa Brahma manifestasi Ida Sang Hyang Widi sebagai pencipta alam semesta beserta isinya. Madya Mandala atau pawongan adalah tempat dimana masyarakat tinggal. Disini masyarakat desa menjalin hubungan untuk menjaga keharmonisan dengan sesama manusia, tempat ini terletak di tengah desa. Nista Mandala atau palemahan adalah lahan yang dipakai masyarakat desa untuk bercocok tanam, tujuan tempat ini adalah untuk menjalin keselaran dengan lingkungan (alam).

Adapun susunan rumah masyarakat yang unik, yaitu rumah disusun dengan corak yang sama (bentuk dan bahan), sejajar dan berhadapan simetris (timur dan barat, berpola linier) dengan jalan utama desa dari utara ke selatan yang berbentuk tanjakan di depan rumah. Di depan rumah ada taman yang membuat pemandangan semakin menawan. Yang menarik disini adalah kendaraan bermotor terutama kendaraan beroda 4 tidak boleh melewati tempat ini, inilah alasan kenapa desa begitu terasa seperti Bali di kala lampau. Menyusuri jalan utama desa kearah selatan anda akan menjumpai sebuah tugu pahlawan yang tertata dengan rapi. Tugu ini dibangun untuk memperingati serta mengenang jasa kepahlawanan Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang lebih dikenal dengan nama kapten Mudita. Kapten Mudita gugur melawan penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Pahlawan ini dibangun oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran sebagai wujud bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang bersama segenap rakyat Bangli.

Bentuk rumah di desa ini pun menarik. Mulai dari ukuran, bentuk, model pintu, sampai atapnya pun sama rumah satu dengan yang lainnya. Yang menarik adalah semua terbuat dari bambu, tetapi seiring masuknya budaya asing yang masuk sekarang ada beberapa perubahan seperti tembok yang dulunya terbuat dari bambu sekarang terbuat dari batu bata dan semen. Adapun atap rumah yang melewati pekarangan rumah orang lain dan dibuatnya lorong yang menghubungkan rumah satu dengan yang lain, ini bertujuan agar warga satu dengan yang lain saling merasakan apa yang sedang dirasakan warga lain di desa tersebut dan juga menjaga keharmonisan antar warga.
Mata pencaharian masyarakat di desa ini bersifat “heterogen” atau bermacam-macam, ada petani, pedagang, pengrajin, dll. Pemasukan desa yang utama dahulu adalah hasil sawahnya, tetapi sekarang adalah dari sektor pariwisatanya yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Di desa ini ada hutan bambu yang terletak di utara desa, di hutan inilah biasanya warga mengambil bambu untuk keperluan mereka, termasuk kerajinan-kerajinan tangan yang mulai diperjual-belikan disana. Tetapi karena hal inilah sekarang terdapat peraturan baru yang isinya bambu yang diambil oleh warga desa tidak boleh dijual tetapi boleh dipakai. Peraturan ini adalah contoh dari awig-awig.

Di desa adat ini berlaku hukum yang mengatur tentang perkawinan. Seorang lelaki di Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Jika dilanggar maka lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang diberi nama Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami. Karang Memadu merupakan sebidang lahan kosong di ujung Selatan desa. Penduduk desa akan mengucilkan lelaki itu beserta keluarganya dan hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di wilayah desa. Tak cuma itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan disahkan oleh desa, upacaranya pernikahannya tidak dipimpin oleh Jero Kubayan yang merupakan pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama. Karena pernikahan itu dianggap tidak sah maka orang tersebut juga dilarang untuk bersembahyang di pura-pura yang menjadi emongan (tanggung jawab) desa adat. Mereka hanya diperbolehkan sembanyang di tempat mereka sendiri. Karang Memadu yang disiapkan oleh desa tetap tidak berpenghuni dan bahkan oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang kotor).

KESIMPULAN :
Desa Adat Panglipuran adalah desa yang indah dan menawan, beragam tradisi leluhur mereka yang eksotik memukau mata, karamah-tamahan warga yang membuat hati serasa di keluarga sendiri.

SARAN :
Sediakan fasilitas yang lebih lagi bagi para turis yang dating kesana, terutama saat kondisi cuaca tidak mendukung!